Blogger Jateng

PANTAI SANCANG

Menemukan Impian di Sancang (1)

12 04 2010 Oleh Praga Utama
Langit pun menjadi gelap, angin membawa awan hujan yang tadinya bertengger jauh di perbukitan utara ke arah pantai di selatan. Elektron-elektron bertegangan tinggi telah merobek udara, guruh bergelegar kencang memecah kesunyian. Sementara angin yang semakin kencang telah menggolakkan samudera.
Itu tanda bagiku untuk segera pulang kalau tak mau terkurung di Sancang karena muara yang meluap akibat hujan, dan terpaksa pulang lewat jalan hutan yang beresiko memertemukanku dengan macan, entah asli atau jadi-jadian.
Sancang, sebuah pantai sepi di Garut Selatan yang telah menawan setengah hatiku. Hanya sehari aku ada di pantai itu, bahkan bisa dibilang, cuma setengah hari, dari pagi sampai siang. Tak seberapa luas juga wilayah yang aku jejaki, hanya sekitar 1,5 Km sepanjang garis pantainya. Leuweung (Hutan) Sancang yang dianggap keramat pun sama sekali tidak kujamah. Memang tak puas, dan keinginan untuk kembali sangatlah besar –untuk mengambil setengah hatiku yang tertawan di sana. Namun di dalam benak, aku sudah merasa cukup dengan kunjungan singkat itu. Kata ‘cukup’ yang sulit kalau harus kupaparkan batasannya.
Semua berawal dari kenekatan dan kekecewaan. Ajakan dua orang teman SMA, bernama Adam dan Norman yang mengantarku ke Sancang. Sebetulnya Sancang tak ada di dalam rencana. Hanya Santolo dan Rancabuaya (dua pantai lain di Selatan Garut) yang jadi tujuan perjalanan kami bertiga pada pertengahan November 2009 Silam. Disebut nekat karena waktu itu isi dompetku sangat tipis. Persiapan fisik dan mental pun kurang karena dua pekan sebelumnya aku baru saja pulang dari Ujung Genteng. Namun ajakan mereka sulit ditolak, karena firasat membisiki kalau ini kesempatan langka.
Setelah menghabiskan waktu selama sekitar 6 jam mengendarai sepeda motor dari Bandung sampai ke Santolo, yang ada hanya rasa lelah dan kekecewaan, karena ternyata Pantai Santolo tak seindah yang aku harapkan. Kotor, kumuh, dan membosankan, menurutku Santolo itu, Rancabuaya yang kukunjungi pada perjalanan pulang kelak kondisinya tak jauh berbeda. Maka timbulah gagasan untuk meneruskan perjalanan ke Sancang yang tak terbayang sebelumnya.
Kamis 19 November 2009, 06.30. Suara debur ombak Pantai Santolo yang terdengar dari balik bilik bambu penginapan membangunkanku. Kelelahan akibat berkendara sehari sebelumnya tidak lagi terasa. Di luar, matahari sudah berani bersinar tapi warna langit abu-abu pudar membosankan, overcast. Lautan masih bergolak, sisa badai semalam. Aku segera bersiap untuk menyongsong perjalanan singkat dari Santolo menuju Sancang. Peralatan fotografi dan barang-barang penting disatukan ke dalam tas kecil yang ringkas. Pagi itu jantungku berdebar-debar, mungkin karena tak mampu menahan arus semangat petualangan yang mengalir dalam darah, tapi bisa jadi itu hanya karena aku telat sarapan sarapan.
Ternyata, hanya perlu waktu 20 menit mengendarai motor untuk mencapai pintu masuk ke Pantai Sancang yang berjarak 3 Km dari Kota Kecamatan Pamengpeuk. Aku bersama dua kawanku tadi, serta empat orang warga asli sebagai pemandu perjalanan yang juga merupakan kenalan Norman, tiba di gerbang sebuah perkebunan kelapa yang jadi salah satu pintu masuk ke kawasan Sancang. “Pantai Wisata Cijeruk Indah” begitu tulisan yang tertera di papan kayu lapuk dengan cat merah yang sudah pudar dekat pintu masuk perkebunan kelapa itu.
Melihat kondisi pintu gerbangnya yang kumuh kuperkirakan pantai ini terlanjur layu sebelum berkembang sebagai objek wisata. Tidak heran, ternyata pantai Cijeruk yang diembel-embeli kata ‘Indah’, ketika kulihat 5 menit kemudian, tak punya daya tarik apapun selain kumpulan perahu tua, bangunan Tempat Pelelangan Ikan tak terpakai yang sudah hampir rubuh, dan sampah yang bertebaran.
Setelah berkendara menerobos kebun kelapa, kami berhenti di pinggir muara yang lebarnya hampir 15 meter dan berair kecoklatan. Pantai Sancang masih belum terlihat, karena di seberang muara yang tampak hanya sebuah delta kecil dengan semak belukar yang rimbun, serta kelebatan hutan Sancang. Ini artinya, kami bertujuh harus menyebrangi muara dan masuk hutan terlebih dahulu untuk tiba di Pantai Sancang. Dalam sepersekian detik, sempat terlintas imajinasi menyeramkan dari muara yang penuh buaya, atau belantara yang punya legenda mahsyur itu.

Pemandu kami memanggil tukang perahu untuk menyeberang. Mungkin lebih tepat disebut ‘getek’ daripada perahu. Karena alat untuk menyebrang itu adalah sebuah perahu fiber yang biasa dipakai nelayan, tapi dimodifikasi dengan penambahan dek kayu tanpa atap di bagian atasnya, sehingga motor pun bisa ikut diseberangkan.
Untuk menyeberang, bukannya menggunakan dayung, tapi sang operator ‘getek’ yang ramah itu menggunakan  tambang plastik yang terbentang membelah sungai. Serupa dengan ‘getek’ yang mudah ditemui di pemukiman kumuh di bantaran sungai-sungai berlimbah di kota besar.
Menyeberang menggunakan getek di atas muara yang cukup lebar jadi pengalaman pembuka yang lumayan mendebarkan. Selain menjaga keseimbangan tubuh sendiri, akupun harus memegangi motor. Meski arus sungai tidak terlalu deras, tapi aliran air cukup untuk mengombang-ambingkan perahu. Sekali menyebrang, perahu hanya bisa menampung dua buah motor dan empat orang penumpang.
Usai semua rombongan menyeberang muara dengan tarif Rp.1000 perkepala dan Rp.1500 per motor, kami segera memacu motor menembus kelebatan hutan. Sudah ada jalan setapak, dan jejak roda motor banyak terlihat. “Ini memang jalur yang lazim digunakan warga sini untuk mencapai Pantai Sancang,” kata si pemandu yang kubonceng.
Tumbuhan di hutan itu tak beda jauh dengan tumbuhan hutan tropis pada umumnya, seperti pohon-pohon berkayu keras, pakis, dan paku-pakuan. Sekitar 10 menit kemudian, jalan setapak habis dan motor segera menggelinding di atas pasir hitam. Di depan, lautan biru dengan ombaknya yang bergulungan dan tampak ganas terlihat jelas. “Selamat datang di Pantai Sancang,” aku memekik kegirangan di dalam hati.
Tapi ternyata, kami harus menghadapi satu muara sungai lagi untuk tiba di pemukiman nelayan Sancang. Muara yang ke dua ini ukurannya lebih kecil, dan setelah dicoba dijejak, ternyata dalamnya hanya sebetis orang dewasa. Tanpa ragu, kami melibas muara itu namun ternyata pasirnya sangat lembek, hampir saja aku terjatuh dari atas motor.
Pemukiman nelayan di Sancang hanya terdiri dari 3 buah rumah kayu semi permanen berukuran sedang tak jauh dari muara ke dua. Kukira, pemukiman ini didirikan para nelayan musiman untuk singgah sejenak di Sancang. Kami beramah-tamah sebentar dengan para nelayan dan menitipkan motor di sana. Petualangan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki. Norman yang sudah siap dengan alat pancing seharga dua juta rupiahnya langsung mengira-ngira spot terbaik untuk memancing. Aku dan Adam memisahkan diri untuk menjelajahi pantai lebih jauh.

Sancang punya bentuk pantai yang unik. Terletak di Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut, dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Tasikmalaya. Jaraknya 90 Km dari Kota Garut, dan 180 Km dari Bandung. Luas kawasan konservasi Sancang mencakup hutan dan pantainya mencapai lebih dari 2000 Ha. Yang membedakan Pantai Sancang dengan pantai lain di selatan Jawa Barat ialah adanya hamparan beting sejauh kurang lebih 30 meter dari bibir pantai memisahkan lautan lepas, jadi ombak dari Samudera Indonesia tidak sampai ke pantai waktu laut sedang surut.
Beting dengan air jernih dan dangkal, padang lamun yang subur, terumbu karang dan koral-koral gosong sepanjang garis pantai Sancang bak kolam ikan air laut raksasa yang sangat menawan. Menyesal, pada waktu ke sana, satupun dari kami tidak ada yang membawa kacamata renang untuk menyaksikan keindahan bawah laut sancang.
Sisa arus pasang terlihat jelas di pasir, mahluk laut yang terperangkap di karang berenang-renang di sela-sela karang dan rumput laut yang bergoyang tenang mengikuti aliran air. Mahluk-mahluk kecil ini mungkin sedang menunggu kedatangan arus pasang pada malam hari untuk kembali ke laut lepas.
Sebelum berkunjung ke sana, aku sudah melihat rupa pantai ini dari program google earth. Di google earth memang terlihat, bentuk Pantai Sancang agak berbeda dibanding pantai lain di pesisir selatan Jawa Barat. Ada dangkalan luas antara laut lepas dengan garis pantai. Sejak melihat citra satelit Sancang via google earth, aku sudah bisa membayangkan keindahan alamnya.
Dan hari itu aku benar-benar ada di sana, menjejakan kaki dan menyaksikan langsung keindahan pantai ini. Apa yang kubayangkan sebelumnya ternyata jauh berbeda, lebih indah aslinya. Ini seperti impian yang jadi nyata.
Pantai Sancang langsung berbatasan dengan hutan lebat yang teduh. Di sana-sini terdapat sulur-sulur akar dan batang pohon berukuran besar yang menjorok ke arah pantai. Bahkan ada akar pohon yang membentuk terowongan kecil, sungguh cantik. Pasir di pantainya putih namun berbutiran kasar, pecahan kulit mollusca dan sisa-sisa tumbuhan yang mati mudah ditemukan. Umang berbagai bentuk, kepiting berkulit putih, merah, transparan berukuran seujung jari sampai sekepalan tangan membuyar berlarian seiring jelajah langkah kaki kami di sana.
Sancang menawarkan petualangan yang dahsyat. Meski harus menyeberangi muara dan menyusur sedikit ke dalam hutan, akses untuk mencapai Sancang tidaklah sulit, banyak bus antarkota yang sampai ke Pamengpeuk. Dari Pamengpeuk ada bus mini atau angkot yang lewat ke ara Cibalong, atau bisa juga sewa ojek dengan harga sepuluh ribu sampai lima belas ribu rupiah. Hal yang penting untuk dilakukan kalau ingin ke sana, apalagi dengan tujuan berkemah, ialah melapor ke jagawana setempat yang terletak di Kecamatan Cibalong.

Menemukan Impian di Sancang (2)

12 04 2010 Oleh Praga Utama
bagian awal tulisan ini dapat dibaca disini
Dalam suatu kisah disebutkan, kawasan hutan lindung Sancang adalah tempat menghilangnya Prabu Siliwangi, raja Padjadjaran yang termahsyur. Pada suatu ketika Prabu Siliwangi berselisih dengan anaknya, Kian Santang, akibat masalah keyakinan. Prabu Siliwangi bersama pengikutnya melarikan diri dari kompleks kerajaan mereka di daerah Bogor ke Leuweung Sancang di Garut.
Di hutan inilah kemudian sang prabu merubah wujudnya (ngahyang) menjadi macan putih dan bersemayam di sana selamanya. Sementara para pengikutnya juga mewujud jadi harimau loreng. Nama Sancang sendiri berasal dari nama kerajaan kecil yang dipimpin saudara kandung Prabu Siliwangi. Kerajaan ini dahulu kala menguasai wilayah yang kini jadi hutan lindung tersebut.
Legenda Sancang serta Prabu Siliwangi yang ngahyang jadi macan putih, benar-benar diyakini masyarakat lokal terutama masyarakat adat Sancang, oleh karena itu mereka sangat menjaga kawasan hutan ini. Namun sayangnya, meski sudah ada legenda yang bikin tempat ini angker, dan statusnya yang ‘kawasan konservasi’ itu tidak membuat hutan dan pantainya bebas dari jamahan tangan-tangan rakus.

Aku melihat sendiri beberapa kayu gelondongan sisa illegal logging yang teronggok begitu saja di pinggir muara Cijeruk. Sementara kebutuhan perut warga yang semakin bertambah banyak membuat nelayan dan para petani rumput laut merambah pantainya dan mendirikan bangunan semi permanen di sana. Beruntung, kawasan ini tidak terlalu populer bagi wisatawan, sehingga sentuhan tangan manusia hampir tidak terasa di sana.
Menurut berita yang kubaca, perambahan hutan lindung Sancang telah merenggut keasriannya seluas 400 Ha lebih, di Hutan Sancang memang ada jenis kayu meranti merah yang terbilang langka dan harganya mahal. Sementara fauna khas Sancang seperti kerbau liar dan macan tutulnya dilaporkan sudah jarang ditemui. Sangat menyedihkan.
Kesakralan legenda hutan itu, keindahan alamnya, dan ‘pertunjukan’ alam di sana menimbulkan perasaan aneh di dalam hatiku selama menjelajahi pantainya. Di sana aku sempat memisahkan diri dari kawan-kawan lainnya. Aku berjalan melewati sebuah tanjung kecil dan melihat beting serta padang lamun berganti menjadi padang pasir yang luas.
Di padang pasir itu berkeliaran ratusan burung laut yang dengan damai berjalan-jalan, mematuki pasir, terbang rendah, menceburkan diri ke laut dan kembali membumbung dengan ikan di paruhnya. Beberapa kayu mati teronggok dan pohon bakau kerdil tumbuh di tengah-tengah oase itu.
Meski masih di pinggir pantai, tapi lautan berada sangat jauh, bahkan suara gemuruh ombak tak terdengar. Suasana di sana sangat sunyi dan tenang. Aku berjalan semakin ke tengah, ingin menyaksikan kehidupan burung liar lebih dekat. Burung-burung terbang menjauh waktu mendengar langkahku. Mereka terbang dengan formasi teratur yang sungguh menakjubkan.
Yang paling menarik, di ujung hamparan pasir itu ada sebuah kapal sejenis tugboat berukuran cukup besar yang karam. Kapal itu tampak sudah cukup lama karam di sana, itu terlihat dari tubuhnya yang berkarat. Waktu aku mencoba mendekat, ternyata lokasi antara kapal karam dengan padang pasir itu dipisahkan selat kecil dan tampak cukup dalam untuk diseberangi dengan jalan kaki, terlihat dari airnya yang biru pekat dan tenang.
Sambil menyaksikan semua keajaiban itu aku menikmati kesunyian dan kesendirian yang terasa. Di situlah momen ketika gerakan semu fatamorgana di atas hamparan pasir nan luas pasir akibat panas yang menguapkan air menyadarkanku: “Ini dia tempat yang sejak dulu kucari. Tempat yang selalu ada di dalam impianku, aku sudah menemukannya!”

Aku memang selalu mengidamkan suatu tempat lapang, dengan langit biru dan udara sejuk. Sejauh mata memandang hanya terlihat hijau segar dari kerimbunan pepohonan, langit biru tua, awan putih, dan horizon yang tak terjangkau. Aku selalu merindukan kesendirian di tengah keleluasaan dan kebebasan. Aku menemukan itu semua di Sancang.
Setiap menemukan objek menarik aku berloncat-loncat kecil dengan gembira. Waktu aku duduk di atas kayu mati yang rupanya mirip kerangka dinosaurus, aku berteriak kencang, melepaskan segala rasa yang terpendam, burung-burung yang sedang mencari makan sampai kaget dibuatnya. Aku benar-benar sendiri dan menikmati momen itu. Meski begitu, alam liar tetaplah alam liar, dan terlepas dari mitos tentang Prabu Siliwangi yang menyelimuti Sancang, dari awal aku sudah membuat aturan sendiri: tak boleh lancang di Sancang (dan tempat lainnya tentu saja).
Setelah merasa cukup (meski sebenarnya tak puas hanya sebentar di sana) aku kembali ke tempat teman-temanku. Norman sudah berada di tengah hamparan beting, memancing. Aku segera membuka pakaian, tak memedulikan matahari yang menyengat dan bergabung dengannya. Norman hanya mendapatkan dua ekor ikan seukuran telapal tangan, tak tahu apa namanya.
Sambil menyaksikan Norman menunggu kailnya disambar ikan layur yang dia inginkan, aku berenang-renang di antara terumbu karang. Sesekali aku menyelam, dan membuka mata di dalam air. Meski perih aku tak peduli, aku ingin melihat kehidupan bawah air.
Seorang nelayan tradisional tiba-tiba muncul dari bawah air tak jauh darii hadapanku, dia membawa tombak panjang dan menggunakan masker snorkeling, di ujung tombaknya yang tajam seekor gurita berukuran sedang tampak menggeliat-geliat sekarat. Ikan-ikan kecil berwarna biru menyala, kuning terang, transparan, beraneka bentuk berlarian di sekitar kakiku. Bintang laut dan bulu babi dengan mudah dijumpai.
Waktu sedang asik melihat-lihat tiba-tiba ada ombak besar dan aku hampir terbawa arus. Reflek aku menggapai karang terdekat, dan tanganku terluka karenanya.
Meski setelah tiba di penginapan seharga 60 ribu semalam untuk bertiga di Santolo, aku menemukan tubuhku gosong, tanganku penuh luka, dan mataku merah berair karena terlalu bersemangat bermain—main di Sancang, tapi itu semua bukan suatu masalah buatku. Karena di dalam hati aku sudah merasa cukup.
Sancang adalah highlight di antara kekecewaan. Kekecewaan kibat menyaksikan pantai-pantai di Garut Selatan yang pada dasarnya sangat memesona, tapi dikelola dengan buruk hingga pesonanya pudar. Tapi perjalanan 3 hari dua malam ke sana adalah satu hal lain yang tak bisa kuceritakan dengan sederhana. Trek Bandung – Rancabuaya via Pangalengan dan Cisewu yang kami lalui dalam perjalanan pergi maupun pulang adalah keajaiban tersendiri.
Masih terbayang jelas, waktu petir pertama siang itu di Sancang menyadarkanku, matahari kalah perkasa oleh awan hujan. Suara menggelegar sang petir itu kuanggap alarm yang mengingatkan kalau sudah habis waktuku hari itu di Sancang. Belum juga berkemas, petir terus menggema bersahut-sahutan. Aku dan kawan-kawanku harus segera beranjak dari sana.
Begitu menginjakan kaki di atas getek yang melintasi muara Cijeruk, aku menoleh kebelakang, angin bertiup kencang menggoyangkan pepohonan. Buatku gerakan pepohonan seperti ‘lambaian tangan’ dari hutan Sancang buatku. Dalam hati aku berikrar untuk menyempatkan kembali lagi ke sana, Pantai dan Hutan Sancang.

Posting Komentar untuk "PANTAI SANCANG"